Breaking News
light_mode
Trending
Beranda » Kebudayaan » Harmoni Islam dan Budaya Tengger di Kawasan Bromo

Harmoni Islam dan Budaya Tengger di Kawasan Bromo

  • account_circle agakarebacom
  • calendar_month Kam, 14 Mei 2026
  • visibility 614
  • comment 78 komentar

Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora, Universitas Negeri Islam Salatiga melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) melakukan praktik, kunjungan, atau pengamatan di lapangan di daerah Gunung Bromo yang terletak di Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo,Jawa Timur.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengaplikasian teori dari tema alkuturasi budaya khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, para dosen dan mahasiswa memiliki tujuan yaitu untuk Menambah pengalaman praktis, memperdalam pemahaman, dan mengasah soft skill (komunikasi, kerja sama tim).

Ketika pelaksaanaanya para dosen dan mahasiawa mendapatkan arahan serta materi dari PPPA Daarul Qur’an (Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an Daarul Qur’an) yang disampaikan oleh tokoh lokal yaitu ustadz Muhibbin dengan peran pengajar Al-Qur’an dan menjaga pendekatan perdamaian antar umat beragam mengenai Tengger sebelum islam, Islamisasi Bertahap, Peraan PPPA Daarul Qur’an, Karakter sosial: Harmoni bukan konflik, persinggungan islam dan budaya tengger.

Melalui kegiatan tersebut para dosen dan mahasiwa dikenalkan lahirnya kampung muslim / kampung Qur’an sekitar +  22 tahun mulai tampak komunitas musimbtengger yang lebih terorganisir di wonokerto.

Salah satu tokoh penting adalah sumarjono/Haji Jono warga Tengger mualaf yang mewakafkan dan membangun Musala Al-Ikhlas Wal Barokah pada 2011. Awalnya musala hanya 6×6 meter (ada laporan lain 4×4 meter, kemungkinan fase pembangunan awal/ renovasi bertahap)

Pernyataan 20% kawasan kampung Qur’an lebih tepat dipahami sebagai Kantong Komunitas Muslim di tengah mayoritas hindu Tengger, bukan keseluruhan Tengger Bromo 20% muslim.

Data kecamatan Sukapura (BPS 2011, dikutip media) Muslim: 12.731 dan Hindu: 6.526. Namun distribusinya tersebar di 12 desa dan tidak merata. Beberapa desa tetep dominan hindu, sementara Wonokerto memiliki kantong muslim lebih kuat.

Di kampung Qur’an Bromo, Islam tidak hadir sebagai penakluk budaya, melinkan sebagai jalan ppendidikan, pembinaan dan harmoni di tengah masyarakat adat Tengger.

Suku Tengger yang hingga kini masih menjaga tradisi leluhur mereka. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang hidup sederhana, menjunjung tinggi adat istiadat, serta memiliki hubungan yang erat dengan alam dan budaya warisan nenek moyang.

Di tengah kuatnya tradisi tersebut, hadir sebuah fenomena menarik berupa Kampung Quran, sebuah tempat pendidikan agama Islam yang berkembang di kawasan masyarakat Tengger.

Kehadiran Kampung Quran menjadi contoh nyata bagaimana agama dan budaya dapat hidup berdampingan melalui proses akulturasi budaya yang damai dan harmonis.

Akulturasi budaya sendiri merupakan proses percampuran dua budaya yang berbeda tanpa menghilangkan unsur asli dari masing-masing budaya tersebut.

Dalam kehidupan masyarakat Tengger, nilai-nilai Islam berkembang melalui pendekatan yang lembut dan menghormati tradisi lokal.

Islam tidak hadir untuk menghapus budaya masyarakat Tengger, tetapi menyesuaikan diri dan berjalan bersama adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Masyarakat Tengger sendiri memiliki sejarah yang erat dengan legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Dari kisah itulah nama “Tengger” dipercaya berasal.

Hingga kini, masyarakat Tengger masih melestarikan berbagai ritual adat, salah satunya tradisi Yadnya Kasada yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi Yadnya Kasada biasanya dilaksanakan setiap hari Rabu terakhir pada bulan Desember dan dimulai tepat pada tengah malam.

Dalam ritual tersebut, masyarakat Tengger berbondong-bondong menuju kawah Gunung Bromo sambil membawa hasil bumi dan hewan ternak sebagai persembahan.

Para petani membawa sayuran dan hasil panen, sedangkan para peternak membawa hewan ternak seperti kambing.

Tradisi ini tidak hanya menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat Tengger dengan budaya leluhur, tetapi juga memperlihatkan nilai kebersamaan dan rasa syukur yang masih dijaga hingga sekarang.

Selain itu, pakaian adat yang dikenakan selama ritual berlangsung juga menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.

Kaum laki-laki mengenakan udeng atau ikat kepala khas Tengger yang dipadukan dengan busana adat menyerupai pakaian tradisional Bali, sementara kaum perempuan kalangan biasa bukan tengger mengenakan kebaya sebagai simbol penghormatan terhadap tradisi.

Menariknya, di tengah kehidupan masyarakat yang masih sangat menjaga adat tersebut, pendidikan Islam dapat diterima dengan baik melalui pendekatan sosial dan budaya yang hangat.

Kampung Quran hadir bukan sebagai simbol perubahan budaya secara drastis, melainkan sebagai ruang pendidikan yang menanamkan nilai-nilai moral, akhlak, dan spiritual tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat setempat.

Setiap sore, anak-anak di lereng Bromo berjalan kaki melewati jalan menanjak dan udara pegunungan yang dingin untuk belajar mengaji di Kampung Quran.

Di tempat sederhana itu, mereka belajar membaca Al-Quran, menghafal doa-doa pendek, dan memahami nilai kehidupan seperti kejujuran, sopan santun, dan kepedulian terhadap sesama.

Para pengajar di Kampung Quran juga menggunakan pendekatan yang penuh kesabaran dan toleransi. Mereka memahami bahwa budaya lokal merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Tengger.

Oleh karena itu, dakwah dilakukan melalui pendidikan, keteladanan, dan hubungan sosial yang baik sehingga agama dapat diterima tanpa menimbulkan konflik budaya.

Keberadaan Kampung Quran di kawasan Tengger menjadi bukti bahwa akulturasi budaya dapat menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.

Nilai-nilai Islam seperti kebaikan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama ternyata memiliki kesamaan dengan nilai-nilai budaya masyarakat Tengger yang menjunjung tinggi kebersamaan dan gotong royong.

Di tengah kehidupan modern yang sering dipenuhi perbedaan dan konflik identitas, masyarakat lereng Bromo justru menunjukkan bahwa perbedaan budaya dan keyakinan dapat menjadi kekuatan untuk membangun harmoni sosial.

Akulturasi budaya yang terjadi di kawasan ini memperlihatkan bahwa agama dan budaya tidak selalu harus dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi dan memperkaya kehidupan masyarakat.

Bagi sebagian orang, Bromo mungkin hanya dikenal karena keindahan alamnya. Namun di balik kabut pegunungan dan dinginnya udara lereng gunung, terdapat pelajaran penting tentang toleransi, pendidikan, dan harmoni budaya yang hidup di tengah masyarakat Tengger.

Di kaki Gunung Bromo, akulturasi budaya tumbuh secara alami melalui sikap saling menghormati dan rasa kemanusiaan.

Dari tempat inilah kita belajar bahwa budaya dan agama dapat berjalan berdampingan tanpa harus saling menghilangkan, melainkan bersama-sama menciptakan kehidupan yang damai dan penuh makna.

Penulis: Fatikhatul Choirunnisa
Mahasiswi Ilmu Al Quran dan Tafsir, Universitas Negeri Islam Salatiga

Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Darsono. AR

  • Penulis: agakarebacom

Komentar (78)

  • sarjana agama

    sangat menarik karena menunjukkan bahwa Islam dan budaya lokal dapat berjalan berdampingan tanpa saling menghilangkan identitas masing-masing, untuk koreksinya mungkin salah ketik bisa dicek lagi ya

    Balas21 Mei 2026 16:36
  • Hana

    Keren 🙌
    semangat terus yaa🫶

    Balas17 Mei 2026 19:13
  • Alfiya

    Artikelnya keren bangett, semangat berproses kawan 😊

    Balas17 Mei 2026 00:42
  • zahh

    kereen
    terimakasih infonyaa

    Balas16 Mei 2026 16:37
  • Farida umma

    MasyaAllah keren banget siii ❤️

    Balas16 Mei 2026 16:27
  • Nfs

    Keren poll

    Balas16 Mei 2026 12:04
  • Man ine

    Dek…

    Dari draft pertamamu boleh kacau, boleh berantakan, itu telah menandakan bahwa kamu itu berani. Dan keberanian ialah sebuah fondasi karya.
    Maka jangan takut pada tulisan yang dikata jelek tapi takutlah pada tulisan yang tidak akan dimulai

    Balas16 Mei 2026 09:19
  • Alip

    Bagus bgt artikelnya. Sangat mengedukasi. Tapi lebih diperhatikan KBBI atau EYD nya yaww

    Balas16 Mei 2026 07:46
  • Erika wulan

    MasyaAllah menambah Insight untuk mahasiswa. Keren banget

    Balas16 Mei 2026 06:46
  • Fitria Fi

    MasyaAllah. Semoga anak cucuku kelak juga bisa menjadi Ahli Qur’an ditengah gempuran gonjang ganjingnya fitnah akhir zaman. Aamiin

    Balas16 Mei 2026 05:56
  • Washiah Widiarti

    Indonesia sangat indah dan keren. Begitu juga dengan karya tulis ini yang tidak kalah kerennya👍

    Balas16 Mei 2026 05:44
  • Idaah

    Waahh keren bangeet tulisannya😍😍 sangat edukatif dan informatif.. hal ini menunjukkan bahwa konflik agama-budaya bukan hal yang pasti terjadi. Di Tengger, keduanya justru saling melengkapi.

    Balas16 Mei 2026 01:19
  • Kelma

    Artikel ini sangat menarik karena menunjukkan bahwa perbedaan agama dan budaya tidak selalu menimbulkan konflik, tetapi justru bisa hidup berdampingan dengan damai. Masyarakat Tengger mampu menjaga tradisi leluhur mereka tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan yang dianut, sehingga tercipta sikap saling menghormati dan toleransi yang tinggi. Semoga penulis terus menghadirkan tulisan-tulisan inspiratif dan bermanfaat seperti ini. 🔥

    Balas15 Mei 2026 22:41
  • Rayen

    Josjis sih

    Balas15 Mei 2026 20:38
  • Nitaa

    Sangat informatif kereenn polll

    Balas15 Mei 2026 20:29
  • rikaa

    Wihh bagus baguss, menambah wawasan
    Semangat terus kakk🥳

    Balas15 Mei 2026 20:03
  • Puput✨️

    Seindah itu ya kalo membahas tentang toleransi, terimakasih telah berbagi pengalaman yang sangat berkesan, semangat slalu ✨️

    Balas15 Mei 2026 19:57
  • Kang Sod

    Matap👍👍…….
    Bagus banget dan sangat bermanfaat.Berguna bagi anak cucu juga artikel ini,agar budaya tetap terjaga bisa di baca2 sejarah ini agar tidak hilang di kemudian hari.

    Semangat…..

    Balas15 Mei 2026 18:39
  • Tidak ada

    Keren bangett kaka, semangat yaaa🥳

    Balas15 Mei 2026 17:38
  • Fatihatul Choirunnissa

    Tim pelaksana kegiatan terdiri atas dosen Program Studi Ilmu Al – Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora, UIN Salatiga ” , yaitu
    1. Dr. M. Nuryansah, M.Hum.
    2. Farid Hasan, M.Hum.
    3. Almer Samantha Hidaya, M.A.
    4. Yassirly Amrona Rasyada, M.PI.
    5. nnisa Fadlilah, M.Ag.,
    6. Ghaida Zukhruf T, M.Pd.
    Serta didukung oleh mahasiswa yang turut terlibat dalam kegiatan penyuluhan, pendampingan, dan praktik bersama masyarakat.

    Balas15 Mei 2026 15:52
  • Devi Elysia

    Pengetahuan baru buatku⭐

    Balas15 Mei 2026 13:40
  • asti alisaa

    Woww keren 🔥
    Artikel yang informatif memaparkan keselarasan antara islam dan budaya, Eitsss, jangan puas sampai situ yaa, perhatikan konsistensi kalimat tiap paragrafnya. Semangat berkarya.

    Balas15 Mei 2026 13:28
  • rahma

    wihhh, best bangett🔥
    proses yang membuahkan hasil

    Balas15 Mei 2026 13:23
  • rahma

    wihhh, best bangett🔥

    Balas15 Mei 2026 13:22
  • Rodhia

    Dari segala aspek kece bangett emanng🔥

    Balas15 Mei 2026 10:50
  • Jazilatul Athiyah, S.Hum

    Artikel sangat informatif, terus dikembangkan ya🔥

    Balas15 Mei 2026 10:32
  • Afifah

    Ini penting bangett.

    Balas15 Mei 2026 10:19
  • Adadeh

    Bagus banget informasinya, keren

    Balas15 Mei 2026 09:12
  • Lala

    Kerennnnn✨

    Balas15 Mei 2026 08:58
  • Siti fatimah

    Bagus artikelnya mengajarkan kita untuk tetap toleransi antar perbedaan. Dan ternyata disana budayanya masih kental. Keren yaa

    Balas15 Mei 2026 08:57
  • Siti Fatimah

    Bagus artikelnya mengajarkan kita untuk tetap saling toleransi antar perbedaan. Dan yang lebih bagusnya lagi ternyata disana budayanya masih kental sekali. Nice 🙌

    Balas15 Mei 2026 08:55
  • Annisa Sus

    Mengajarkan toleransi agama, kedepane lebih tertata dan lebih bagus lagii. Semangat, kerenn

    Balas15 Mei 2026 07:22
  • Nona baik

    Ouhh proses akulturasi budaya antara Islam dan tradisi masyarakat Tengger di kawasan Bromo. Dengan Pendekatan yang digunakan melalui pendidikan, keteladanan, dan hubungan sosial menjadi contoh nyata dakwah yang damai dan toleran. Dan juga dari Kehadiran Kampung Qur’an di tengah masyarakat yang mayoritas Hindu Tengger membuktikan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus berujung konflik.

    Balas15 Mei 2026 07:11
  • Bos broo

    Tulisannya sudah lumayan bagus, tapi perlu lebih diperhatikan lagi penulisannya ya. pesannya kena banget…. ” sesuatu itu memang terasa berat kalau cuma dipandang dari jauh, tapi begitu dijalani, ternyata jauh lebih mudah dari yang dibayangkan. Keep writing! “

    Balas15 Mei 2026 06:55
  • Cha Rahma

    Kampung Quran Bromo membuktikan Islam dan budaya Tengger bisa hidup berdampingan secara damai. Lewat pendidikan yang menghormati adat, nilai-nilai agama dan tradisi lokal saling melengkapi, menciptakan harmoni di lereng Bromo.

    Balas15 Mei 2026 06:53
  • aliyana

    Baru tahu ada yang namanya Tradisi Yadnya Kasada, terimakasih ya informasinya sangat membantu 🤩

    Balas15 Mei 2026 06:51
  • Ana Nadia

    Keren, mantappp

    Balas15 Mei 2026 06:48
  • hafizz

    kerenn kakkk

    Balas15 Mei 2026 06:47
    • asti alisaa

      Woww keren 🔥
      Artikel yang informatif memaparkan keselarasan islam dan budaya. Eitss, tapi jangan cukup puas sampai situ yaa, perhatikan konsistensi kalimat tiap paragrafnya. Semangat berkarya yakk 🙂

      Balas15 Mei 2026 13:18
  • Unknown

    Bagus, lebih teliti lagi dalam penulisannya🙌🏻

    Balas15 Mei 2026 06:41
  • Ayyul

    Penjelasan yang cukup akurat, saran saya lebih teliti dalam penulisan, konsisten pada pengulangan kata yang sama, serta perhatikan penggunaan huruf kapital untuk nama orang, tempat, atau awal kalimat.
    Penulisan yang bagus, akan menumbuhkan minat baca orang. Semangat berkarya.

    Balas15 Mei 2026 06:36
  • Vitaa

    Waahhhh keren banget artikelnya

    Balas15 Mei 2026 06:17
  • Nafisahh

    Isinya bagus dan menarik

    Balas15 Mei 2026 06:09
  • himmaa

    semangat selalu, berproses melalui tulisan itu bagus, evaluasi setiap tulisan sebelum di up juga penting, teliti, dan menggunakan bahasa yg mudah dipahami sangat ditekankan dalam penulisan artikel, terimakasih, semoga sukses

    Balas15 Mei 2026 05:58
  • Fathia

    Wiiih kereen

    Balas15 Mei 2026 05:57
  • Fatiaaa

    Wowww toleransinya kuat sekalii

    Balas15 Mei 2026 05:56
  • noname

    keren kak

    Balas15 Mei 2026 00:58
  • Nasrul

    Artikel ini dapat memberikan kesan bahwa pembaca sedang mendengarkan cerita dari pengalaman seseorang. Dari artikel ini, saya menangkap suatu pesan bahwa orang yang memiliki perbedaan keyakinan dapat berjalan bersama dengan adanya budaya. Hal ini layaknya air dan minyak yang dapat bercampur dengan adanya sabun.

    Balas15 Mei 2026 00:35
  • ka

    waahh menarikk🤩

    Balas15 Mei 2026 00:18
  • Nellycomel

    Bagus banget si tulisannya. Jos jissss 😍

    Balas15 Mei 2026 00:12
  • Nellycomel

    Bagus banget si tulisannya 😍

    Balas15 Mei 2026 00:11
  • Ahmd

    Penulisan dan penempatan kalimat sudah pasti hanya saja perlu sedikit masukan agar kalimat nya tidak typo

    Balas14 Mei 2026 23:48
  • Santri Josjis

    Isi artikelnya baguss, tinggal tentukan jadwal kesana saja🤏🏻

    Balas14 Mei 2026 23:48
  • Athfaal

    Dari tulisan tersebut bisa menambah wawasan, bahwa masyarakat di sana saling menghormati perbedaan dan tetap hidup damai bersama.

    Balas14 Mei 2026 23:40
  • Gadis

    Keren banget artikelnyaaa, jadi makin sadar kalau perbedaan budaya dan agama tuh bisa hidup berdampingan dengan damai. Thankyou ya udah nambah wawasan soal masyarakat Tengger. Semangat terus buat nulis artikel keren kayak gini🤍

    Balas14 Mei 2026 23:38
  • Linn

    Kerennn sekali, dari tulisan ini saya jadi ingin ke bromooo, semoga besok bisa ke sana

    Balas14 Mei 2026 23:36
  • Diva

    Aaaaa suka sekali tulisannyaaaa, kaya makna dan sejarahnyaaaa. Love youuuuuuu full mbak nisakuuuuuu❤️

    Balas14 Mei 2026 23:29
  • Ima

    Artikelnya bagus, tapi lebih teliti lagi ya dalam penulisan🤗

    Balas14 Mei 2026 23:18
  • novvviaaa

    artikel yang sangat edukatif dan informatif, ternyata di dalam keindahan bromo masih ada keindahan yang sangat indah yaitu nilai toleransi yang sangat tinggi, yang mungkin tidak semua daerah mempunyainya

    Balas14 Mei 2026 23:12
  • Novia Lutfi

    kerennn bangeeet🤩, sangat sangaat edukatif dan informatif🤩 terimakasih telah memberikan gambaran sejarah yang sangat indah, seperti halnya bromo yang kita lihat saat ini🥰

    Balas14 Mei 2026 23:07
  • Novia Lutfi

    kerennn bangeeet🤩 sangat sangaat edukatif dan informatif🤩

    Balas14 Mei 2026 23:05
  • desy

    wahh sangat inspiratif toleransi budayanya, terimakasih penulis saya dapet ilmu baru nihh

    Balas14 Mei 2026 22:59
  • desy

    wahh keren dan sangat inspiratif toleransi budayanya, terimakasih penulis saya dapet ilmu baru nihh

    Balas14 Mei 2026 22:58
  • Ch

    Sudah sangat jelas diparagraf terakhir bahwa tradisi, budaya dan agama harus berjalan bersebelahan agar tercipta kehidupan yang damai.

    Balas14 Mei 2026 22:57
  • Bela

    Baguss ,cocok untuk motivasi semua orangg

    Balas14 Mei 2026 22:56
  • Lutfianisa

    keren si baru tau ternyata dibalik pegunungan ada nuansa islami dan toleransi antar agama keren bgtt sii pengen kesaanaa deh

    Balas14 Mei 2026 22:48
  • Faradila

    Waduh keren bangettt, semangat terus ya 👏✊

    Balas14 Mei 2026 16:22
  • Sindyspty

    Waah berarti toleransi dalam hal sosial atau pun tentang perbedaan agama nya nggak kalah sama Salatiga yaa. Kerenn…

    Balas14 Mei 2026 15:05
    • Puput✨️

      Seindah itu ya kalo membahas tentang toleransi, terimakasih telah berbagi pengalaman yang ssangat berkesan, semangat slalu ✨️

      Balas15 Mei 2026 19:56
  • Fatihah

    Tulisan ini mengingatkan saya bahwa setiap proses berharga. Terima kasih sudah mengingatkan untuk pantang menyerah

    Balas14 Mei 2026 14:54
  • Kalimatul

    Artikel bagus, kedepannya lebih teliti lagi dalam penulisan agar tidak teejadi typo atau lainnya

    Balas14 Mei 2026 14:52
  • Your best friend

    Wihh, kerennyaaaa✨

    Balas14 Mei 2026 14:52

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Retret ASN Kalbar Disorot, Pemprov Pastikan Sesuai Regulasi dan Anggaran

    Retret ASN Kalbar Disorot, Pemprov Pastikan Sesuai Regulasi dan Anggaran

    • calendar_month Sen, 6 Apr 2026
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Pontianak — Polemik kegiatan retret Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat akhirnya mendapat penjelasan resmi. Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan kompetensi ASN yang telah diatur dalam regulasi nasional. Menurutnya, kewajiban pengembangan kompetensi ASN telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN, […]

  • daftar pekerjaan bergaji tinggi tanpa ijazah di tahun 2025

    Tidak Perlu Kuliah, Ini Daftar 10 Pekerjaan Bergaji Tinggi Tanpa Ijazah di 2025

    • calendar_month Sab, 28 Jun 2025
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 3.475
    • 0Komentar

    Pekerjaan bergaji tinggi tanpa ijazah kini menjadi impian realistis banyak orang di tahun 2025. Dalam era digital ini, kesuksesan tidak lagi ditentukan oleh gelar akademik. Kamu bisa membangun karier mapan dengan keterampilan yang relevan, bahkan tanpa menempuh bangku kuliah. Banyak perusahaan membuka lowongan kerja tanpa ijazah terbaru, terutama di sektor digital dan kreatif. Hal ini […]

  • Penulis: ZUBAIR (Ketua Bidang Seni Budaya dan Pariwisata BPW KKSS Kalbar - Sekretaris DPW HIMAS Kalbar)

    Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda dalam Gerak Pariwisata Kekinian

    • calendar_month Rab, 29 Okt 2025
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 935
    • 1Komentar

    MAKASSAR – Setiap tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia selalu diingatkan pada peristiwa bersejarah yang mengubah arah perjalanan negeri ini, Sumpah Pemuda. Delapan puluh tujuh tahun sebelum era media sosial, para pemuda dari berbagai daerah telah mendeklarasikan satu tekad, satu bahasa, dan satu bangsa Indonesia. Semangat itu lahir dari kesadaran sederhana namun mendalam: bahwa perbedaan bukanlah […]

  • Biddokkes Polda Sulbar Siaga di Pantai Mallawa, Antisipasi Sengatan Ubur-Ubur dan Bulu Babi saat Libur Lebaran

    Biddokkes Polda Sulbar Siaga di Pantai Mallawa, Antisipasi Sengatan Ubur-Ubur dan Bulu Babi saat Libur Lebaran

    • calendar_month Rab, 25 Mar 2026
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 143
    • 0Komentar

    MAMUJU — Dalam rangka mengantisipasi potensi gangguan kesehatan selama libur panjang Idul Fitri 1447 H, Kapolda Sulawesi Barat menginstruksikan jajaran Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) meningkatkan kesiapsiagaan pelayanan medis, khususnya di kawasan wisata pesisir. Menindaklanjuti arahan tersebut, Biddokkes Polda Sulbar menggelar pengamanan kesehatan di Pantai Mallawa, Kabupaten Mamuju, Rabu (25/3/2026). Kegiatan difokuskan pada pencegahan dan […]

  • BPW KKSS Kalbar Tunjuk Careteker BPD Pontianak, Jaga Soliditas Organisasi

    BPW KKSS Kalbar Tunjuk Careteker BPD Pontianak, Jaga Soliditas Organisasi

    • calendar_month Rab, 3 Sep 2025
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 337
    • 0Komentar

    Pontianak – Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPW KKSS) Kalimantan Barat resmi menunjuk Careteker Badan Pengurus Daerah (BPD) KKSS Kota Pontianak. Rabu, (03/09/2029) Penunjukan ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan roda organisasi, melakukan konsolidasi internal, serta menyiapkan kepengurusan definitif melalui musyawarah daerah. Dalam susunan yang ditetapkan, Lendeng Syahrani dipercaya sebagai Ketua Careteker BPD KKSS […]

  • Kolaborasi KNPI dan GP Ansor, Hidupkan Semangat Sumpah Pemuda di Momen HUT Kota Pontianak

    Kolaborasi KNPI dan GP Ansor, Hidupkan Semangat Sumpah Pemuda di Momen HUT Kota Pontianak

    • calendar_month Rab, 29 Okt 2025
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 266
    • 0Komentar

    PONTIANAK – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-254 Kota Pontianak dan Hari Sumpah Pemuda ke-97, DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Pontianak bersama GP Ansor Kota Pontianak menggelar Festival Adat Budaya dan Panggung Ekspresi di Tugu Taman Digulis Untan. Kegiatan ini menjadi pusat semarak bagi pemuda dan masyarakat kota. Selasa (28/10/2025) Festival menampilkan berbagai […]

expand_less