Breaking News
Trending
Beranda » Kebudayaan » Dari Majelis ke Pasar: Ketika Ngaji Selosonan Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Majelis ke Pasar: Ketika Ngaji Selosonan Menghidupkan Ekonomi Warga

  • account_circle agakarebacom
  • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
  • visibility 215
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Fenomena kegiatan keagamaan di Indonesia tidak hanya memiliki dimensi spiritual tetapi juga memiliki potensi sosial dan ekonomi yang signifikan.

Di berbagai daerah, pengajian seringkali menjadi titik pertemuan bagi masyarakat di seluruh wilayah, menciptakan suasana yang dinamis yang melampaui sekadar ibadah.

Contoh yang menarik adalah ngaji selosonan yang rutin diadakan di Pondok Pesantren At-Taufiqy di Rowokembu, Kabupaten Pekalongan.

Kegiatan ini tidak hanya menyediakan tempat untuk merasakan nilai-nilai keagamaan tetapi juga secara tidak langsung menciptakan dinamika ekonomi di daerah sekitarnya.

Banyaknya jamaah dari berbagai daerah yang berpartisipasi setiap minggu menunjukkan bahwa pengajian tidak lagi menjadi kegiatan eksklusif dan terbatas.

Sebaliknya, pengajian telah berkembang menjadi ruang sosial yang dinamis. Hal ini memberikan peluang menarik bagi masyarakat setempat untuk menggunakannya sebagai sumber pendapatan.

Selosonan merupakan contoh nyata bagaimana kegiatan berbasis sosial-keagamaan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Oleh karena itu, penting untuk melihat tradisi keagamaan tidak hanya sebagai praktik spiritual tetapi juga sebagai potensi penggerak ekonomi lokal yang berbasis pada kreativitas komunitas.

Dari perspektif pengembangan ekonomi lokal, kegiatan berbasis sosial keagamaan seperti Selosonan dapat dipahami melalui konsep multiplier effect.

Multiplier Effect terjadi ketika suatu aktivitas dapat memicu aktivitas lain. Penulis menggunakan teori Frechtling, Tarigan, Moretti, dan Domanski & Gwosdz, yang menyatakan bahwa multiplier effectdalam pengembangan ekonomi lokal adalah dampak dari suatu aktivitas yang kemudian mendukung perkembangan aktivitas lain, baik secara langsung atau tidak langsung. (Ismanto & Nasrullah, 2019).

Ngaji Selosonan

Ngaji Selosonan adalah tradisi keagamaan rutin yang diadakan setiap hari Selasa oleh masyarakat sekitar Pondok Pesantren At-Taufiqy di Rowokembu.

Istilah “selosonan” sendiri berasal dari kata bahasa Jawa “seloso” yang berarti Selasa, sehingga kegiatan ini merujuk pada pengajian yang diadakan pada hari itu.

Pengajian ini dipimpin oleh kiai dari Pondok Pesantren At-Taufiqy dan dihadiri oleh jamaah dari berbagai latar belakang, termasuk pelajar dan masyarakat umum, bahkan dari luar wilayah Pekalongan.

Seiring waktu, ngaji selosonan tidak hanya menjadi aktivitas keagamaan rutin, tetapi juga berkembang menjadi tradisi sosial dengan daya tariknya sendiri.

Jumlah jamaah menunjukkan bahwa aktivitas ini memiliki dampak yang kuat pada kehidupan sosial. Selain berfungsi sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan agama, pengajian ini juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial yang memperkuat hubungan antara individu dan masyarakat.

Ngaji Selosonan dapat dipahami sebagai fenomena sosial-keagamaan yang dinamis dan berkembang dalam masyarakat.

Makna Spiritual dan Kegiatan Ngaji Selosonan

Secara spiritual, ngaji selosonan memiliki makna yang mendalam bagi jamaah. Kegiatan ini merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai bentuk ibadah bersama.

Ngaji Selosonan biasanya dimulai dengan solawat dan zikir bersama. Setelah itu, jamaah mendengarkan ceramah dari kiai, yang memberikan nasihat agama, penguatan moral, dan wawasan tentang ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian kegiatan ngaji selosonan ini tidak hanya memberikan kedamaian batin tetapi juga memperkuat ikatan spiritual antar jamaah. Kebersamaan dalam beribadah menciptakan rasa solidaritas dan persaudaraan yang kuat.

Ngaji Selosonan bukan hanya rutinitas, tetapi praktik spiritual yang membentuk kepribadian dan memperkuat identitas keagamaan masyarakat.

Peluang Ekonomi bagi Masyarakat Sekitar

Selain suasana keagamaan yang tercipta, ngaji selosonan juga memiliki dampak ekonomi yang memengaruhi masyarakat sekitar.

Kehadiran banyak jamaah setiap minggu menciptakan suasana ramai seperti pasar. Masyarakat setempat memanfaatkan momentum ini dengan membuka gerai yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman serta kebutuhan lain bagi jemaah. Aktivitas ini menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat memicu pertumbuhan ekonomi.

Fenomena ini mencerminkan multiplier effect, di mana satu aktivitas dapat berdampak pada aktivitas ekonomi lainnya di daerah sekitarnya.

Warga tidak hanya datang untuk mengaji tetapi juga mulai menjualkan produk mereka. Hal ini membuka peluang bagi pengembangan ekonomi lokal berdasarkan kebutuhan dan kreativitas masyarakat.

Ngaji Selosonan tidak hanya memberikan manfaat spiritual tetapi juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Karena potensinya, ngaji selosonan tidak hanya harus dilestarikan sebagai tradisi keagamaan tetapi juga dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif masyarakat.

Pemerintah desa dan pengelola setempat dapat mendorong pengembangan ekonomi lokal dan memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar untuk menghasilkan produk yang lebih inovatif dan bernilai tinggi.

Lebih jauh lagi, pengembangan produk-produk khas, seperti kuliner lokal atau kerajinan tangan, dapat menciptakan identitas ekonomi yang memperkuat daya tarik kegiatan tersebut.

Dengan langkah-langkah yang tepat, ngaji selosonan tidak hanya dapat menjadi tempat ibadah tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitarnya.

Penulis: Yulada Syurfa
Mahasiswa Megister Ekonomi Syariah, Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid

Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Darsono. AR

  • Penulis: agakarebacom

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Retret ASN Kalbar Disorot, Pemprov Pastikan Sesuai Regulasi dan Anggaran

    Retret ASN Kalbar Disorot, Pemprov Pastikan Sesuai Regulasi dan Anggaran

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Pontianak — Polemik kegiatan retret Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat akhirnya mendapat penjelasan resmi. Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan kompetensi ASN yang telah diatur dalam regulasi nasional. Menurutnya, kewajiban pengembangan kompetensi ASN telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN, […]

  • Audiensi DPD REI Kalbar membahas Lahan Baku Sawah dan pembangunan perumahan di Kalimantan Barat

    DPD REI Kalbar Bahas Persoalan LBS dan Persiapan REI Expo dengan Pemprov Kalbar

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Pontianak – Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, menerima audiensi Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Kalimantan Barat di Ruang Rapat Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Kamis (30/7/2026). Pertemuan tersebut membahas persoalan Lahan Baku Sawah (LBS) yang saat ini menjadi kendala bagi sejumlah anggota REI dalam mengembangkan kawasan perumahan. Selain itu, audiensi juga membahas […]

  • Forum Harmonisasi SLIK OJK, DPD REI Kalbar Dorong Akses KPR MBR Lebih Luas

    Forum Harmonisasi SLIK OJK, DPD REI Kalbar Dorong Akses KPR MBR Lebih Luas

    • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 637
    • 0Komentar

    Kubu Raya — Implementasi regulasi terbaru terkait Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK menjadi fokus utama dalam kegiatan yang digelar di Aula Kantor Bupati Kabupaten Kubu Raya, Kamis (30/4/2026). Regulasi ini membuka peluang bagi masyarakat dengan riwayat tunggakan kredit di bawah Rp1 juta untuk tetap mengakses Kredit Pemilikan Rumah (KPR), khususnya bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah […]

  • Kampung Quran dan budaya masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo

    Harmoni Islam dan Budaya Tengger di Kawasan Bromo

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 809
    • 78Komentar

    Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora, Universitas Negeri Islam Salatiga melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) melakukan praktik, kunjungan, atau pengamatan di lapangan di daerah Gunung Bromo yang terletak di Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo,Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengaplikasian teori dari tema alkuturasi […]

  • PW IWSS Kalbar

    Gelar Pertemuan Rutin, PW IWSS Kalbar Bahas Program Kerja dan Perkuat Silaturahmi

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Kubu Raya – Pengurus Wilayah Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (PW IWSS) Kalimantan Barat menggelar pertemuan rutin yang dirangkaikan dengan arisan serta pembahasan progres program kerja bidang pendidikan, dakwah, dan kerohanian di Desa Sungai Kupah, Kabupaten Kubu Raya, Minggu (28/6/2026). Kegiatan diawali dengan tahsin Al-Qur’an yang dipimpin oleh Hj. Jamilah, S.Ag. Suasana berlangsung khidmat saat para […]

  • Audiensi BPW KKSS

    Kajati Kalbar Terima Audiensi KKSS, Bahas Sinergi Penegakan Hukum dan Kehidupan Sosial Masyarakat

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle agakarebacom
    • visibility 42
    • 0Komentar

    PONTIANAK — Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kalimantan Barat, Dr. Emilwan Ridwan, S.H., M.H., menerima audiensi Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPW KKSS) Kalimantan Barat di Restoran Sari Bento Pontianak, Kamis (24/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antara Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat dengan organisasi paguyuban masyarakat, khususnya dalam mendukung kesadaran […]

expand_less