Harmoni Islam dan Budaya Tengger di Kawasan Bromo
- account_circle agakarebacom
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 128
- comment 4 komentar

Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora, Universitas Negeri Islam Salatiga melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) melakukan praktik, kunjungan, atau pengamatan di lapangan di daerah Gunung Bromo yang terletak di Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo,Jawa Timur.
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengaplikasian teori dari tema alkuturasi budaya khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, para dosen dan mahasiswa memiliki tujuan yaitu untuk Menambah pengalaman praktis, memperdalam pemahaman, dan mengasah soft skill (komunikasi, kerja sama tim).
Ketika pelaksaanaanya para dosen dan mahasiawa mendapatkan arahan serta materi dari PPPA Daarul Qur’an (Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an Daarul Qur’an) yang disampaikan oleh tokoh lokal yaitu ustadz Muhibbin dengan peran pengajar Al-Qur’an dan menjaga pendekatan perdamaian antar umat beragam mengenai Tengger sebelum islam, Islamisasi Bertahap, Peraan PPPA Daarul Qur’an, Karakter sosial: Harmoni bukan konflik, persinggungan islam dan budaya tengger.
Melalui kegiatan tersebut para dosen dan mahasiwa dikenalkan lahirnya kampung muslim / kampung Qur’an sekitar + 22 tahun mulai tampak komunitas musimbtengger yang lebih terorganisir di wonokerto.
Salah satu tokoh penting adalah sumarjono/Haji Jono warga Tengger mualaf yang mewakafkan dan membangun Musala Al-Ikhlas Wal Barokah pada 2011. Awalnya musala hanya 6×6 meter (ada laporan lain 4×4 meter, kemungkinan fase pembangunan awal/ renovasi bertahap)
Pernyataan 20% kawasan kampung Qur’an lebih tepat dipahami sebagai Kantong Komunitas Muslim di tengah mayoritas hindu Tengger, bukan keseluruhan Tengger Bromo 20% muslim.
Data kecamatan Sukapura (BPS 2011, dikutip media) Muslim: 12.731 dan Hindu: 6.526. Namun distribusinya tersebar di 12 desa dan tidak merata. Beberapa desa tetep dominan hindu, sementara Wonokerto memiliki kantong muslim lebih kuat.
Di kampung Qur’an Bromo, Islam tidak hadir sebagai penakluk budaya, melinkan sebagai jalan ppendidikan, pembinaan dan harmoni di tengah masyarakat adat Tengger.
Suku Tengger yang hingga kini masih menjaga tradisi leluhur mereka. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang hidup sederhana, menjunjung tinggi adat istiadat, serta memiliki hubungan yang erat dengan alam dan budaya warisan nenek moyang.
Di tengah kuatnya tradisi tersebut, hadir sebuah fenomena menarik berupa Kampung Quran, sebuah tempat pendidikan agama Islam yang berkembang di kawasan masyarakat Tengger.
Kehadiran Kampung Quran menjadi contoh nyata bagaimana agama dan budaya dapat hidup berdampingan melalui proses akulturasi budaya yang damai dan harmonis.
Akulturasi budaya sendiri merupakan proses percampuran dua budaya yang berbeda tanpa menghilangkan unsur asli dari masing-masing budaya tersebut.
Dalam kehidupan masyarakat Tengger, nilai-nilai Islam berkembang melalui pendekatan yang lembut dan menghormati tradisi lokal.
Islam tidak hadir untuk menghapus budaya masyarakat Tengger, tetapi menyesuaikan diri dan berjalan bersama adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Masyarakat Tengger sendiri memiliki sejarah yang erat dengan legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Dari kisah itulah nama “Tengger” dipercaya berasal.
Hingga kini, masyarakat Tengger masih melestarikan berbagai ritual adat, salah satunya tradisi Yadnya Kasada yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tradisi Yadnya Kasada biasanya dilaksanakan setiap hari Rabu terakhir pada bulan Desember dan dimulai tepat pada tengah malam.
Dalam ritual tersebut, masyarakat Tengger berbondong-bondong menuju kawah Gunung Bromo sambil membawa hasil bumi dan hewan ternak sebagai persembahan.
Para petani membawa sayuran dan hasil panen, sedangkan para peternak membawa hewan ternak seperti kambing.
Tradisi ini tidak hanya menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat Tengger dengan budaya leluhur, tetapi juga memperlihatkan nilai kebersamaan dan rasa syukur yang masih dijaga hingga sekarang.
Selain itu, pakaian adat yang dikenakan selama ritual berlangsung juga menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.
Kaum laki-laki mengenakan udeng atau ikat kepala khas Tengger yang dipadukan dengan busana adat menyerupai pakaian tradisional Bali, sementara kaum perempuan kalangan biasa bukan tengger mengenakan kebaya sebagai simbol penghormatan terhadap tradisi.
Menariknya, di tengah kehidupan masyarakat yang masih sangat menjaga adat tersebut, pendidikan Islam dapat diterima dengan baik melalui pendekatan sosial dan budaya yang hangat.
Kampung Quran hadir bukan sebagai simbol perubahan budaya secara drastis, melainkan sebagai ruang pendidikan yang menanamkan nilai-nilai moral, akhlak, dan spiritual tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat setempat.
Setiap sore, anak-anak di lereng Bromo berjalan kaki melewati jalan menanjak dan udara pegunungan yang dingin untuk belajar mengaji di Kampung Quran.
Di tempat sederhana itu, mereka belajar membaca Al-Quran, menghafal doa-doa pendek, dan memahami nilai kehidupan seperti kejujuran, sopan santun, dan kepedulian terhadap sesama.
Para pengajar di Kampung Quran juga menggunakan pendekatan yang penuh kesabaran dan toleransi. Mereka memahami bahwa budaya lokal merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Tengger.
Oleh karena itu, dakwah dilakukan melalui pendidikan, keteladanan, dan hubungan sosial yang baik sehingga agama dapat diterima tanpa menimbulkan konflik budaya.
Keberadaan Kampung Quran di kawasan Tengger menjadi bukti bahwa akulturasi budaya dapat menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.
Nilai-nilai Islam seperti kebaikan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama ternyata memiliki kesamaan dengan nilai-nilai budaya masyarakat Tengger yang menjunjung tinggi kebersamaan dan gotong royong.
Di tengah kehidupan modern yang sering dipenuhi perbedaan dan konflik identitas, masyarakat lereng Bromo justru menunjukkan bahwa perbedaan budaya dan keyakinan dapat menjadi kekuatan untuk membangun harmoni sosial.
Akulturasi budaya yang terjadi di kawasan ini memperlihatkan bahwa agama dan budaya tidak selalu harus dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi dan memperkaya kehidupan masyarakat.
Bagi sebagian orang, Bromo mungkin hanya dikenal karena keindahan alamnya. Namun di balik kabut pegunungan dan dinginnya udara lereng gunung, terdapat pelajaran penting tentang toleransi, pendidikan, dan harmoni budaya yang hidup di tengah masyarakat Tengger.
Di kaki Gunung Bromo, akulturasi budaya tumbuh secara alami melalui sikap saling menghormati dan rasa kemanusiaan.
Dari tempat inilah kita belajar bahwa budaya dan agama dapat berjalan berdampingan tanpa harus saling menghilangkan, melainkan bersama-sama menciptakan kehidupan yang damai dan penuh makna.
Penulis: Fatikhatul Choirunnisa
Mahasiswi Ilmu Al Quran dan Tafsir, Universitas Negeri Islam Salatiga
Editor: Dzulkarnain
Bahasa: Darsono. AR
- Penulis: agakarebacom

Waah berarti toleransi dalam hal sosial atau pun tentang perbedaan agama nya nggak kalah sama Salatiga yaa. Kerenn…
14 Mei 2026 15:05Tulisan ini mengingatkan saya bahwa setiap proses berharga. Terima kasih sudah mengingatkan untuk pantang menyerah
14 Mei 2026 14:54Artikel bagus, kedepannya lebih teliti lagi dalam penulisan agar tidak teejadi typo atau lainnya
14 Mei 2026 14:52Wihh, kerennyaaaa✨
14 Mei 2026 14:52