Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda dalam Gerak Pariwisata Kekinian
- account_circle agakarebacom
- calendar_month Rab, 29 Okt 2025
- visibility 833
- comment 1 komentar

Penulis: ZUBAIR (Ketua Bidang Seni Budaya dan Pariwisata BPW KKSS Kalbar - Sekretaris DPW HIMAS Kalbar)
MAKASSAR – Setiap tanggal 28 Oktober bangsa Indonesia selalu diingatkan pada peristiwa bersejarah yang mengubah arah perjalanan negeri ini, Sumpah Pemuda. Delapan puluh tujuh tahun sebelum era media sosial, para pemuda dari berbagai daerah telah mendeklarasikan satu tekad, satu bahasa, dan satu bangsa Indonesia.
Semangat itu lahir dari kesadaran sederhana namun mendalam: bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk maju, melainkan kekuatan untuk membangun. Dan di masa kini, semangat yang sama dapat kita hidupkan kembali melalui gerakan pembangunan pariwisata sebuah sektor yang tumbuh di atas keberagaman budaya, alam, dan kearifan lokal.
Pariwisata sejatinya adalah cermin kebersamaan. Ia tumbuh ketika masyarakat menjaga alam, melestarikan budaya, dan membuka diri terhadap orang lain. Di titik inilah nilai-nilai Sumpah Pemuda menemukan relevansinya. sama halnya pemuda 1928 berikrar untuk bersatu, pemuda masa kini dapat berikrar untuk bersama membangun pariwisata daerah sebagai wujud cinta tanah air.
Sebagai Ketua Bidang Seni Budaya dan Pariwisata Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPW KKSS) Kalimantan Barat, saya melihat betapa pentingnya peran komunitas pemuda perantau dan organisasi kedaerahan dalam mengembangkan sektor ini.
Kita tidak hanya menjaga budaya asal, tetapi juga ikut membangun citra Kalimantan Barat sebagai daerah yang terbuka, beragam, dan ramah wisata.
Kalimantan Barat, misalnya, memiliki kekayaan wisata yang luar biasa mulai dari Sungai Kapuas, Istana Amantubillah Mempawah, hingga pesona kuliner dan tradisi masyarakat pesisir. Namun potensi itu tak akan berkembang tanpa tangan kreatif dan semangat kolaboratif para pemuda.
Mereka dapat menjadi motor penggerak promosi digital, inovator produk wisata berbasis budaya, hingga penjaga kelestarian lingkungan di sekitar destinasi. Pemuda bukan hanya penonton, tapi pelaku utama dalam menghidupkan denyut perekonomian lokal.
Zaman telah berubah. Nasionalisme kini tak lagi cukup disampaikan melalui pidato dan seremonial. Di era digital, cinta tanah air bisa diwujudkan dengan cara mengangkat nama Indonesia di ruang maya .
Ketika anak muda mempromosikan wisata daerahnya melalui konten kreatif di media sosial, membuat video pendek tentang keindahan alam, atau menulis kisah budaya lokal yang inspiratif mereka sejatinya sedang menggaungkan semangat Sumpah Pemuda versi baru.
Mereka bersatu melalui jejaring digital, berbahasa Indonesia sebagai identitas, dan berbangsa dalam kebanggaan yang ditampilkan ke dunia. Inilah bentuk nasionalisme yang relevan dengan generasi saat ini: nasionalisme yang produktif dan kreatif.
Sumpah Pemuda bukan sekedar peringatan sejarah, tapi pesan moral untuk terus bergerak maju bersama . Dalam konteks pariwisata, semangat itu berarti menjaga identitas budaya, memperkuat kolaborasi, dan berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.
Ketika pemuda Kalimantan Barat dan daerah lain di Indonesia berinisiatif memperkenalkan potensi wisata masing-masing dengan cara yang cerdas dan santun, maka mereka sedang melanjutkan perjuangan para pendahulu perjuangan untuk menjadikan Indonesia dikenal, dihargai, dan dicintai.
Sumpah Pemuda telah mempersatukan bangsa. Kini saatnya semangat itu mempersatukan langkah kita dalam membangun pariwisata yang berkarakter, berkelanjutan, dan memuaskan Sebab, mencintai tanah air hari ini bisa dimulai dari hal sederhana: mempromosikan keindahan negeri sendiri.
Penulis: ZUBAIR (Ketua Bidang Seni Budaya dan Pariwisata BPW KKSS Kalbar – Sekretaris DPW HIMAS Kalbar)
- Penulis: agakarebacom

Aga Kareba
29 Oktober 2025 13:41