Connect with us

Food & Travel

Tak Hanya Toraja, Bantaeng Juga Punya Negeri di Atas Awan

Published

on

Agakareba.com, Bantaeng – Negeri di atas awan tak hanya ada di Puncak Lolai, Toraja Utara. Bantaeng juga memiliki pemandangan serupa.
Keindahan negeri di atas awan tersebut bisa dinikmati di puncak Muntea, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng. Jaraknya kurang lebih 25 kilometer dari ibu kota Bantaeng.
Salah satu warga Bantaeng, Azis, mengatakan, untuk bisa melihat awan, pengunjung harus berangkat dini hari sekitar pukul 04.00. Menurutnya, perjalanan ke puncak Muntea hanya ditempuh kurang lebih 30 menit saja. Daerah tersebut mudah diakses dengan sepeda motor maupun kendaraan roda empat.
“Jalan menuju kesana sudah mulus, sehingga perjalanan hampir tidak ada hambatan,” ujar Azis, Kamis, 3 Agustus.
Dia bertutur, objek wisata ini baru dibuka sehingga fasilitasnya masih minim. Namun di lokasi tersebut sudah ada gazebo bisa digunakan sambil menunggu awan muncul. Pengunjung dianjurkan menggunakan jaket tebal, cuacanya sangat dingin.
“Kawasan ini juga merupakan lokasi agrowisata terkenal di Bantaeng,” sebutnya.(dir)

Author : Alief Sappewali


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Food & Travel

Film Soal Kapal Pinisi Digarap untuk Tarik Wisatawan

Published

on

Kapal Pinisi Bagi Negeri sedang berlabuh di anjungan pantai Losari.

Agakareba.com, Makassar – Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan tengah menggarap film terkait perahu tradisional pinisi berjudul “Man On Boat” di Kabupaten Bulukumba, Sulsel, 27 Maret 2018.

Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Destinasi Pariwisata Disbudpar Sulsel, Yulianus Batara Saleh di Makassar, Rabu (21/3/2018), mengatakan film dokumenter yang memperlihatkan aktifitas para pembuat perahu dan nelayan di Bulukumba itu selanjutnya akan diputar diberbagai kantor VITO di sejumlah negara seperti Singapura, Hongkong, Korea Selatan, Belanda, Malaysia, Jepang, India, Jerman, Prancis, Australia, hingga Tiongkok.

“Jadi setelah film ini rampung maka selanjutnya diputar diberbagai kantor perwakilan VITO di berbagai negara. Kita berharap pembuatan filmnya sukses dan bisa segera disaksikan di mancanegara,” katanya.

Untuk waktu pembuatan film sendiri, kata dia, memang tidak membutuhkan waktu yang lama karena jenis film dokumenter.

Pembuatan film hingga penanyangan, kata dia, juga akan dilakukan VITO Kementerian Pariwisata tentunya dibantu oleh dinas pariwisata provinsi dan kabupaten/kota di Sulsel.

Mengenai pembuatan film yang mengangkat aktifitas pembuat perahu tradisional masyarakat Sulsel dan nelayan di Bulukumba, kata dia, merupakah salah satu upaya untuk bisa menarik lebih banyak wistawan asing berkunjung ke daerah tersebut.

Ini juga sesuai dengan komitmen VITO untuk mempublikasikan dan mengangkat berbagai destinasi terbaik Indonesia ke dunia internasional.

Ia berharap setelah penayangan film ini akan membuat wisatawan mancanegara semakin tertarik untuk datang dan melihat langsung bukan hanya melalui layar. Ini juga sebagai respon atas menurunnya tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Daerah itu sejak Januari 2018.

Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulsel Nursam Salam mengatakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulsel pada Januari 2018 menurun drastis dibandingkan Desember 2017.

Pada Januari 2018, jumlah kunjungan wisman sebanyak 826 orang, sedangkan pada Desember 2017 mencapai 1.689 orang. Jika dibandingkan Januari 2017 kunjungan wisman sebanyak 1.677 orang atau turun 50,74 persen dibandingkan Januari 2018.

Menurut dia, wisman yang banyak berkunjung ke Sulsel pada 2017 berasal dari Malaysia, Tiongkok, Singapura, dan negara Eropa.

Pada Januari 2017 wisman asal Malaysia sebanyak 746 orang dan Desember 2017 naik menjadi 1.046 orang. Disusul wisman Tiongkok pada Desember 2017 sebanyak 417 orang. Namun, pada Januari 2018 kunjungan wisman asal Malaysia turun drastis menjadi 499 orang dan Tiongkok hanya 23 orang. (abd)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Food & Travel

Berwisata Mengunjungi Orang Utan di Pangkalan Bun

Published

on

Agakareba.com, Makassar – Pangkalan Bun merupakan ibukota bagi kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Pangkalan Bun letaknya berada di pinggir sungai Bun dengan wilayah yang berbukit dan berlembah. Pangkalan Bun adalah kota menyimpan banyak potensi alam. Berbagai macam perusahaan perkebunan dan silvikultur telah membangun usahanya di sekitar kota ini. Slogan dari kota ini adalah MANIS yang berarti Minat, Aman, Nikmat, Indah dan Segar. Tak heran jika Pangkalan Bun tercatat selama 3 tahun pernah mendapat Adipura dari Presiden RI sebagai “kota kecil terbersih.”

Pelabuhan yang dimiliki Kotawaringin Barat adalah Pelabuhan Kumai. Pelabuhan ini melayani transportasi laut dari dan menuju Semarang serta Surabaya. Perusahaan transportasi laut yang ada disana yakni Pelni, PT. Dharma Lautan Utama, dan PT. Prima Vista.

Sementara itu, terdapat bandar udara di Pangkalan Bun bernama Bandara Iskandar. Jarak bandara menuju kota Pangkalan Bun kurang lebih 10 km. Sampai saat ini, terdapat empat perusahaan penerbangan yang melayani rute menuju Pangkalan Bun, salah satunya adalah maskapai Trigana Air. Trigana Air melayani rute dari Pangkalan Bun menuju Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo, Banjarmasin, Pontianak, dan Ketapang.

Pangkalan Bun memiliki berbagai objek wisata yang menarik dan patut Anda kunjungi. DI antaranya ada Taman Nasional Tanjung Puting, Air Terjun Patih, Pantai Kubu, Tanjung Keluang, Istana Kuning, Kerajaan Kutaringin, dan Pantai Tanjung Penghujan.

Taman Nasional Tanjung Puting berada di Kecamatan Kumai. Luasnya kurang lebih 415.040 ha mencakup suaka margasatwa, hutan produksi, dan kawasan perairan. Besarnya taman nasional ini hingga memiliki beberapa ekosistem, yaitu hutan tropika dataran rendah, hutan rawa air tawar, hutan tanah kering, hutan bakau atau mangrove, hutan rawa gambut, dan hutan sekunder.

Taman nasional ini diperuntukkan untuk memberi perlindungan berbagai macam hewan yang hampir punah keberadaannya, salah satunya adalah orang utan. Orang utan merupakan kera besar yang berbulu kemerahan atau coklat serta berlengan panjang. Orang utan ini hidup di hutan tropis.

Orang utan merupakan kerabat dekat manusia pada tingkat kingdom animalia, yang tingkat kesamaan DNA nya sebesar 96,4%. Orang utan tidak memiliki ekor dan tingginya sekitar 1,25-1,5 meter; beratnya sekitar 50 – 90 kg untuk jantan; dan 30 – 50 kg untuk betina.

Orang utan dapat juga ditemukan di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Mereka biasanya hidup di pepohonan lebat dan membuat sarang dari dahan dedaunan. Orang utan termasuk hewan omnivora, namun sebagian besar dari mereka hanya memakan tumbuh tumbuhan, seperti buah buahan, kulit pohon, dedaunan, bunga, nektar, madu, dan jamur.

Induk orang utan akan mengajarkan anak-anaknya bagaimana cara mendapatkan makanan dan minuman dari berbagai jenis pohon pada musim yang berbeda-beda. Mereka mengetahui letak lokasi hutan dengan baik dan mereka tahu bagaimana caranya untuk mendapatkan makanan yang terlindungi dari duri serta cangkang yang keras.

Orang utan adalah makhluk yang pemalu. Mereka jarang terlihat dan akan bersembunyi jika melihat makhluk yang tak dikenalnya. Sama halnya dengan manusia, orang utan mengandung hingga 9 bulan dan jumlah bayinya hanya satu. Orang utan melahirkan di usia 7-10 tahun. Induk orang utan akan melakukan penyapihan terhadap anaknya jika usia sang anak telah mencapai 6-7 tahun. Orang utan betina hanya melahirkan setiap 7-8 tahun sekali dan hanya seekor anak. Umurnya di alam liar dapat mencapai 45 tahun.

Orang utan adalah binatang cerdas yang menggunakan tongkat usebagai alat bantu mengambil makanan. Mereka juga menggunakan daun untuk melindungi dari sengatan sinar matahari. Orang utan hidup sendiri, kecuali orang utan betina yang hidup ditemani anaknya, demikian seperti dikutip dari fajaronline.com (*/fajaronline.com)

Author : Rasid


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Food & Travel

Pemprov Naikkan Target Kunjungan Wisatawan

Published

on

Agakareba.com, Makassar — Kunjungan wisatawan di Sulsel makin meningkat. Pemprov Sulsel pun makin percaya diri menaikkan target kunjungannya.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dissbudpar) Sulsel, Julianus B Saleh menyebutkan, terget kunjungan wisatawan tahun ini tentunya meningkat dari tahun lalu. Khusus wisatawan nusantara (wisnus), dari tujuh juta menjadi delapan juta.

“Kalau wisman (wisatawan mancanegara) dari 185 ribu menjadi 200 ribu. Apalagi kita melampaui target tahun lalu,” sebut dia, Senin (24/4/2017).

Dia mengunkapkan, kunjungan wisatawan pada triwulan satu sudah lumayan tinggi. Padahal, ini masih low season, belum memasuki musim liburan, demikian seperti dikutip dari fajaronline.com (ril)

Author : Rasid


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending