Connect with us

Lifestyle

Bosan dengan Jin, Rapped Jin Bisa Jadi Solusi

Published

on

Agakareba.com, Makassar – Celana jin bisa dikatakan sebagai outfit terpenting bagi pria. Tetapi jika Anda bosan dengan jin yang begitu saja, rapped jin bisa menjadi solusinya.

Meskipun zaman terus berubah, tetapi jin tetap menjadi raja dari masa ke masa. Rapped jin dengan goresan seperti robek-robek pada bagian paha, betis atau lutut menjadi andalan bagi pria yang ingin tampil stylish.

Selain stylish, modifikasi dari robek-robek pada celana jin tidak meninggalkan kesan macho pada pria saat menggunakannya.

Salah satunya rapped jin model skinny. Sangat pas bagi pria yang mempunyai bentuk tubuh ideal. Pasalnya celana model ini sangat pas mengikuti bentuk kaki.

“Celana model ini bikin penampilan keren, karena sangat pas di badan, apalagi ditambah aksen rappednya,” kata Supervisor Levis’s Trans Studio Mall Makassar, Febby.

Agar semakin tampil macho, rapped jeans bisa dipadukan dengan jaket jin berwarna senada. Jangan lupa baju kaos yang berwarna gelap agar semakin keren, demikian seperti dikutip dari fajaronline.com (san)

Author : Alief Sappewali


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lifestyle

Stres Membuat Otak Menua 4 Tahun Lebih Cepat

Published

on

Agakareba.com, Makassar- Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan seperti dipecat dari pekerjaan, bercerai atau bertengkar bisa membuat otak menua hingga empat tahun, hal ini menurut sebuah penelitian yang dipresentasikan di Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer di London.

Studi yang belum dipublikasikan di jurnal medis peer-reviewed ini juga menemukan bahwa orang Amerika-Afrika tampaknya paling berisiko mengalami perubahan otak terkait stres.

Peserta studi Afrika-Amerika tidak hanya melaporkan lebih dari 60 persen kejadian yang lebih menyakitkan daripada rekan kulit putih mereka, namun setiap pengalaman individu juga terkait dengan hasil kognitif yang lebih buruk.

Pada peserta kulit putih, setiap pengalaman stres dikaitkan dengan perubahan otak yang menyamai kira-kira satu setengah tahun penuaan otak normal, menurut sebuah laporan dari NPR.

Pada peserta Afrika-Amerika, setiap pengalaman stres membuat usia otak menua rata-rata empat tahun.

Sementara penelitian tersebut tidak mencari gejala demensia secara khusus, para penulis menunjukkan bahwa prevalensi penyakit Alzheimer meningkat.

“Stres adalah kontributor yang jelas dalam penuaan kognitif dan studi lebih lanjut sangat diperlukan,” kata pemimpin peneliti, Megan Zuelsdorff, PhD, seperti dilansir laman Lifescript, Rabu (2/8).

Penelitian ini melibatkan 82 orang dewasa Afrika-Amerika dan 1.232 orang dewasa kulit putih non-Hispanik.

Semua peserta menjawab pertanyaan tentang pengalaman stres sepanjang hidup mereka, termasuk kesulitan dalam pendidikan, konflik interpersonal, ketidakamanan finansial, masalah sistem hukum atau keadilan, adanya masalah kesehatan yang serius dan trauma psikologis atau fisik.

Mereka juga menyelesaikan tes kognitif yang mengukur kemampuan memori dan pemecahan masalah.

Kedua kelompok tersebut, peserta Africa-America dan peserta kulit putih sama-sama berpendidikan tinggi dan kelompok tersebut tidak berbeda dalam usia rata-rata 58 tahun sekolah atau persentase orang yang membawa gen APOE-e4, sebuah genetika faktor risiko penyakit Alzheimer.

Terlepas dari kesamaan ini, orang-orang Amerika-Afrika melaporkan rata-rata 4,5 kejadian penuh tekanan sepanjang hidup, dibandingkan dengan hanya 2,8 kejadian penuh tekanan sepanjang hidup yang dilaporkan oleh peserta kulit putih.

Pengalaman seperti itu terkait dengan ingatan dan kemampuan berpikir yang buruk bagi orang-orang di kedua kelompok, namun pengaruhnya meningkat bagi orang Afrika Amerika.

“Temuan kami menegaskan kembali efek stres pada kesehatan kognitif dan disparitas,” para penulis menulis dalam studi abstrak mereka.

Mereka menekankan perlunya “intervensi yang ditargetkan” untuk menghilangkan perbedaan faktor risiko di kelompok ras dan khususnya, untuk orang-orang yang berada dalam populasi kurang beruntung.

Ini bukan studi pertama yang menghubungkan stres dan masalah kognitiif.

Sebuah studi 2015 di jurnal Alzheimer Disease and Associated Disorders menemukan bahwa orang dewasa yang menganggap diri mereka berada di bawah tekanan adalah 30 persen lebih mungkin mengalami gangguan kognitif dini, bahkan setelah memperhitungkan gejala depresi, usia, jenis kelamin, ras, pendidikan dan faktor risiko genetik

Stres bisa memengaruhi kadar hormon dalam tubuh dan mengurangi kepadatan sel saraf di otak.

Stres juga bisa mengganggu fungsi kekebalan tubuh dan bisa berkontribusi pada pengembangan protein plak di otak, yang keduanya telah dikaitkan dengan perkembangan Alzheimer, demikian seperti dikutip dari fajaronline.com (fny/jpnn)

Author : Rasid


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Lifestyle

Dominan Orangtua yang Menularkan Pobia kepada Anak

Published

on

Agakareba.com, Makassar- Anak-anak terutama balita memang memiliki kecenderungan takut terhadap sesuatu. Hal yang paling umum ditakuti anak adalah gelap, serangga atau ketika berpisah dengan orangtuanya.

Tak hanya itu, ada ketakukan lain yang dialami anak dan mungkin bagi Anda sangat aneh. Ada anak-anak yang takung dengan kaus kaki, warna hijau, motif polkadot bahkan donat. Dari penelitian terungkap 1da 40 fobia yang paling sering terjadi pada anak termasuk takut pada badut dan kucing.

Bahkan terkuak juga ketakutan yang tidak lazim seperti takut pada kancing, saus, dan suara alat makan yang bergesekkan. Dari penelitian diketahui anak-anak di bawah usia 16 tahun, rata-rata anak memiliki 3 fobia. Rasa takut tersebut cenderung berkembang ketika anak berusia 3 tahun 10 bulan.

” Setiap anak memiliki fobia karena alasan yang berbeda-beda. Beberapa memiliki trauma tapi tidak ada berarti apa-apa. Kebanyakan berasumsi sesuatu akan terjadi kalau hal itu ada di  sekitarnya seperti badut yang tiba-tiba hadir menakutinya di taman,” ujar Emma Citron, seorang psikolog anak.

Menurut Emma, ada beberapa penyebab anak bisa menjadi fobia, pemicunya antara lain sebagai berikut.

Insting
Salah satu alasannya adalah karena bisa jadi masih berhubungan dengan evolusi. Sebagai contoh, takut pada ular, hiu, dan laba-laba adalah insting bertahan hidup yang alami karena hewan tersebut berbahaya.

Reaksi orang lain
Reaksi orangtua, kakak atau saudaranya karena ketidaksukaan anak pada sesuatu bisa mengubahnya menjadi fobia. Ada anak yang sebenarnya hanya takut saja pada kumbang misalnya. Tetapi orang-orang di sekitar malah terus menakuti dan dilakukan terus-menerus. Ketakutan anak pun jadi berlebihan.

” Tertular’ fobia orangtua
Sebagai orangtua, Anda bisa tidak sengaja meneruskan ketakutan dan fobia pada anak. Penelitian menemukan 7 dari 10 orangtua yang membawa ketakutannya saat kecil hingga
dewasa seperempatnya meneruskannya ke anak-anak mereka.

Usia
Ketika anak bertambah besar dan mengembangkan imajinasinya, dapat berdampak pada ketakutan dan fobianya yang baru. Menurut Anxiety Care UK, berikut ketakutan yang normal
berdasarkan usia anak:
2-4 takut pada hewan, suara kencang, dan ditinggal sendirian.
4-6 ketakutan pada kegelapan dan makhluk khayalan seperti monster dan hantu.
7+ ketakutannya mulai menghilang, tapi pada usia 9-11, anak mulai takut pada sekolah, darah dan bekas luka.

Ada juga 10 fobia yang paling sering dimiliki oleh anak-anak. Fobia tersebut yaitu takut pada laba-laba, gelap, kolong tempat tidur, petir, tawon, sendirian, berisik/ di ruang publik yang ramai, orang menggunakan masker, anjing dan orang asing, demikian seperti dikutip dari fajaronline.com (**)

Author : Rasid


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending

Redaksi media Agakareba.com menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), publikasi Press Release, dan dukungan Media Partner, serta kerjasama bisnis lainnya.
© Media Agakareba.com termasuk salah satu anggota jaringan Media Agakareba Group (MAG).
Email :
redaksi@agakareba.com
WA Center :
0878-15557788 , 0855-7777888
© Terbit Sejak 16 Maret 2017